Mendengar istilah Sidratul Muntaha, pikiran kita langsung tertuju pada kisah perjalanan Isra’-Mi’raj Nabi. Alasannya, Sidratul Muntaha sebenarnya adalah salah satu kebesaran Allah yang diperlihatkan kepadanya. Istimewanya, hanya utusan Tuhan yang bisa masuk ke Sidratul Muntaha. Malaikat Jibril sendiri, sebagai pendamping Rasulullah saw, tidak diperbolehkan pergi ke sana.
Namun, dalam surat an-Najm ayat 14 istilah Sidratul Muntaha disebutkan secara eksplisit, “Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha,” (QS. an-Najm [53]: 13-14).
Lantas seperti apa gambaran detail Sidratul Muntaka yang dilihat Rasulullah SAW saat Isra’-Mi’raj? Seperti yang dijelaskan pada ayat di atas, Sidratul Muntaka adalah tempat Rasulullah melihat malaikat Jibril dalam wujud aslinya. Dijelaskan dalam sebuah Hadis sedangkan di Sidratul Muntaka penampakan asli malaikat Jibril memiliki enam sayap. Dari bulunya dia mengibaskan mutiara Yaqut dan batu berharga.
Kemudian, keberadaan Sidratul Muntaha sendiri berada di dekat surga, sebagaimana ayat, “Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.” (QS. an-Najm [53]: 13-14). Dijelaskan para ulama, maksud sesuatu yang melingkupi di atas adalah cahaya. Demikian sebagaimana yang digambarkan hadits berikut:
Artinya, “Ketika dimi’rajkan ke langit, aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Kemudian, aku melihat cahaya yang agung. Daun-daun Sidratul Muntaha itu seperti kuping-kuping gajah dan buah-buahnya seperti kendi besar. Di sana ada empat sungai yang dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Saat itu, aku bertanya, ‘Apa ini, Jibril?’ Ia menjawab, ‘Dua sungai dalam adalah dua sungai di surga, sedangkan dua sungai luar adalah sungai Nil dan Eufrat,’” (HR Ahmad).
Dinamakan Sidratul Muntaha karena tempat pohon merupakan puncak segala sesuatu yang naik dari bumi dan yang turun dari langit. Pangkalnya yang turun dan naik tersebut berada di Sidratul Muntaha. Dinamakan Sidratul Muntaha juga karena menjadi pohon tempat terakhirnya arwah para syuhada yang senantiasa mendapat karunia rezeki Allah.
Pohon tersebut berada di atas langit ketujuh, di sebelah kanan ‘Arasy, dengan daun-daun seperti kuping-kuping gajah, buah-buahnya seperti kendi besar, dahan-dahannya berupa mutiara, yaqut, dan, zabarjad. (Lihat: Tafsir Muqatil bin Sulaiman, juz IV/160). Setiap daunnya ditempati malaikat yang selalu berzikir pada Allah sehingga Sidratul muntaha layak disebut puncak ketinggian yang diketahui makhluk. Itu pun hanya Rasulullah saw yang mengetahuinya. Sampai-sampai malaikat Jibril pun tidak bisa memasukinya. Demikian seperti yang diakui Jibril sendiri:
Artinya, “Aku tidak bisa melewati tempat ini. Tidak ada satu pun yang diperintah melewati tempat ini kecuali engkau.”
Setibanya di Sidratul Muntaha, salam yang terucap dari lisan Rasulullah saw. adalah, “At-tahayiyyatul mubarakatus shalawatu lillah.” Dijawab oleh Allah, “Assalamu alaika ayyuhan-nabiyy warahmatullahi wabarakatuh.” Dijawab lagi oleh Rasulullah saw, “Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahis shalihin.” Bacaan inilah yang hingga sekarang menjadi bacaan tahiyat shalat kita selaku umat Rasulullah saw. (Lihat: Tafsir az-Zamarqandi, juz I/189). Dikisahkan pula oleh Rasulullah saw, “Di sana aku disuguhi dua gelas minuman. Yang satu berisi susu, yang satu berisi khamr.
Keduanya ditawarkan kepadaku. Dan aku memilih susu. Disampaikan kepadaku, ‘Engkau sudah benar! Melaluimu, Allah telah menempatkan umatmu sesuai fitrah.’” Di sana pula Rasulullah saw mendapat perintah shalat lima puluh waktu yang diusulkan Nabi Musa as. untuk dikurangi hingga akhirnya ditetapkan 5 waktu. Meski hanya lima waktu, tetapi keutamaan dan keunggulannya menandingi 50 waktu. (Lihat: Tafsir Yahya bin Salam, juz I/104). Maha Besar Allah yang telah memperlihatkan sebagian kekuasaan kepada hamba-Nya. Betapa mulia hamba yang telah menyaksikannya. Sungguh dia (Muhammad) benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar. (QS. an-Najm [53]: 18).
==Daftar Pustaka : https://nu.or.id/ ==
