Jakarta – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Medan Area (UMA) menjajaki kerja sama strategis dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pemberdayaan ekonomi umat.
Penjajakan kerja sama tersebut dilakukan melalui audiensi FAI UMA dengan BAZNAS RI di Gedung BAZNAS, Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Senin (20/7/2026).
Delegasi FAI UMA dipimpin Dekan Fakultas Agama Islam, Dr. Siti Hawa Lubis, M.Pd.I., dan diterima Direktur Pendayagunaan BAZNAS RI, Eka Budhi Sulistyo. Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang sinergi, termasuk pengembangan program pendidikan, beasiswa, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan ekonomi berbasis zakat produktif.
Dr. Siti Hawa Lubis mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membuka akses pendidikan bagi generasi muda yang memiliki potensi akademik, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi.
“Kami mencoba memberikan harapan kepada anak-anak muda Indonesia agar mereka berani tampil dan maju menggapai mimpinya,” ujar Siti Hawa.
Menurutnya, masih banyak generasi muda dengan prestasi dan kemampuan yang baik, namun terkendala kondisi ekonomi keluarga untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi mereka agar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki,” katanya.
Dalam audiensi tersebut, kedua pihak juga membahas penguatan implementasi Tridarma Perguruan Tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan UMKM, serta peluang kolaborasi dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Direktur Pendayagunaan BAZNAS RI, Eka Budhi Sulistyo, menjelaskan bahwa program BAZNAS diarahkan untuk menjadikan zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat, bukan hanya bantuan yang bersifat konsumtif.
“Program kami adalah program umat, dari umat untuk kemaslahatan umat,” ujar Eka Budhi.
Ia menjelaskan, berbagai program pemberdayaan BAZNAS mencakup sektor pendidikan, pengembangan usaha, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan UMKM melalui berbagai program seperti Z-Mart, Z-Chicken, dan Z-Auto.
Menurut Eka Budhi, tujuan utama dari program tersebut adalah mendorong perubahan kondisi ekonomi penerima manfaat agar mampu mandiri dan pada akhirnya dapat menjadi pemberi zakat (muzakki).
“Target akhirnya adalah bagaimana mustahik dapat bertransformasi menjadi muzakki,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Eka Budhi juga memperkenalkan sejumlah produk UMKM binaan BAZNAS yang telah melalui proses pendampingan, mulai dari peningkatan kualitas produksi, pengemasan, uji laboratorium, hingga pemenuhan sertifikasi halal dan izin edar.
Ia turut memaparkan program Z-Corner BAZNAS yang dikembangkan di lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS). Program tersebut mengusung konsep pusat kuliner halal berbasis pemberdayaan dengan melibatkan pelaku UMKM serta mahasiswa dalam pengelolaannya.
Menurutnya, konsep tersebut menjadi contoh sinergi antara lembaga pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kesejahteraan masyarakat.
Selain audiensi dengan Direktur Pendayagunaan BAZNAS RI, delegasi FAI UMA juga berkesempatan berdiskusi dengan Hj. Neyla Saida Anwar, SS., SE., SH., M.Hum. Dalam pertemuan tersebut, beliau menyambut baik inisiatif yang dibangun FAI UMA dan mendorong agar sinergi dengan BAZNAS segera diwujudkan melalui kerja sama yang lebih konkret.
Menurut Hj. Neyla Saida Anwar, kolaborasi kelembagaan akan memudahkan koordinasi dan pelaksanaan berbagai program di masa mendatang.
“Buat saja kerja sama dengan BAZNAS supaya ke depannya lebih efektif dalam berbagai urusan dan pelaksanaan program,” ujarnya.
Masukan tersebut menjadi penguatan bagi rencana kedua belah pihak untuk segera menyusun nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama yang mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pemberdayaan ekonomi umat, serta pengembangan program sosial berbasis zakat.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Siti Hawa Lubis menyampaikan apresiasi terhadap berbagai inovasi BAZNAS dalam mengelola zakat produktif. Ia menilai pendekatan pemberdayaan tersebut relevan untuk memperluas manfaat dana zakat bagi masyarakat sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan BAZNAS.
Hal senada disampaikan Rahmat Kurnia yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Ia menilai pengelolaan zakat secara produktif mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
“Zakat memang seharusnya dikelola secara produktif sehingga manfaatnya terus mengalir kepada masyarakat,” ujarnya.
Audiensi FAI UMA dan BAZNAS RI diharapkan menjadi langkah awal bagi terbentuknya kerja sama yang lebih luas dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pemberdayaan ekonomi umat, serta penguatan ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan.
