Medan, 27 April 2026 – Tim Delegasi Lomba Debat Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Medan Area (UMA) turut berpartisipasi secara aktif dalam rangkaian kegiatan UMA Fair 2026 yang diselenggarakan di lingkungan Kampus Universitas Medan Area. Kegiatan ini menjadi ajang strategis bagi mahasiswa untuk menampilkan potensi, kreativitas, serta kemampuan akademik yang dimiliki kepada sivitas akademika dan masyarakat luas.

Keikutsertaan Tim Delegasi Lomba Debat FAI UMA dalam UMA Fair 2026 merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam bidang berpikir kritis, komunikasi ilmiah, dan kemampuan argumentasi. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan budaya debat akademik sebagai salah satu sarana pengembangan intelektual dan kepemimpinan generasi muda.

Kegiatan kompetisi akademik yang diikuti oleh empat tim mahasiswa berlangsung dengan penuh semangat, dedikasi, serta pembelajaran berharga yang menjadi bekal penting bagi pengembangan diri di masa depan. Setiap tim tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga mampu mengambil hikmah dan pelajaran mendalam dari proses yang telah dilalui.

Tim Tsaqofah, yang terdiri dari Matius Ocon Ginting, Holida Yanti Lubis, dan Wanda Hamidah Lubis, menekankan pentingnya persiapan yang matang dalam setiap kegiatan. Mereka menyadari bahwa segala sesuatu memerlukan perencanaan yang baik. Namun demikian, mereka juga memahami bahwa hasil tidak selalu sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, mereka menegaskan pentingnya sikap percaya diri yang diiringi dengan tawakal kepada Allah sebagai bentuk keteguhan spiritual dalam menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, Tim Path of Wisdom yang beranggotakan Syakira, Atikah, dan Novri, menunjukkan kemampuan analisis yang kuat terhadap berbagai isu. Tim ini berhasil mengasah keterampilan dalam mengidentifikasi permasalahan, baik di tingkat lokal maupun global, serta merumuskan solusi yang relevan dan konstruktif. Pengalaman ini memperkuat kapasitas mereka dalam berpikir kritis dan responsif terhadap dinamika yang berkembang di masyarakat.

Di sisi lain, Tim Wistara yang terdiri dari Alwi Basri Lubis, Hendry Saputra Nasution, dan Adil Rahutman Harahap, menjadikan pengalaman kompetisi sebagai sarana evaluasi diri. Mereka menyadari bahwa kerja keras harus diimbangi dengan strategi yang tepat. Kekalahan yang dialami tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai investasi ilmu yang akan memperkuat performa mereka di masa mendatang. Mereka juga menyampaikan apresiasi atas bimbingan yang telah diberikan, serta berkomitmen menjadikan evaluasi ini sebagai pijakan untuk meraih prestasi yang lebih baik.

Adapun Tim Alhujjah , yang beranggotakan Anggina Lesnauli Lubis, Asmarito Harahap, dan Eva Mustika, memaknai debat sebagai lebih dari sekadar adu argumen. Bagi mereka, debat merupakan latihan pengendalian diri, ketenangan, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur dan berbasis fakta. Mereka belajar bahwa setiap pernyataan harus memiliki landasan yang kuat, serta pentingnya kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang tidak terduga. Pengalaman ini mendorong mereka untuk berpikir lebih visioner, tidak cepat berpuas diri, dan senantiasa mempersiapkan diri secara optimal.

Secara keseluruhan, keikutsertaan keempat tim ini mencerminkan semangat akademik yang tinggi, kemampuan reflektif, serta komitmen untuk terus berkembang. Pembelajaran yang diperoleh tidak hanya memperkaya wawasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.