Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan Jimati. Suatu barang diyakini memiliki manfaat. Jimat juga sangat populer di tempat saya lahir, ada banyak jenis jimat. Baik berupa gelang atau kalung, atau ditempatkan sebagai hiasan dinding atau bahkan di atas pintu depan. Sayangnya, kita sering menganggap amulet ini sah-sah saja karena sering kita dapatkan dari sesepuh atau ustadz kita atau bahkan dari orang-orang yang disebut cerdas. Tapi tahukah Anda, hanya ada dua alasan mengapa kita bisa bekerja demi keuntungan atau untuk mencegah kerugian. Dua alasan inilah yang oleh para ilmuwan disebut sebagai nalar indah dan nalar syar’i.

Alasan yang baik adalah alasan yang rasional dan terbukti secara ilmiah. Ini dapat digunakan sebagai alasan untuk mendatangkan keuntungan dan juga untuk mencegah kerugian. Seperti orang yang pergi ke hutan lalu membawa senjata tajam untuk membela diri atau kalau sakit lalu pergi ke dokter. Minumlah obatnya Jadikanlah sebagai alasan untuk mendatangkan taubat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka itulah alasannya, alasan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala izinkan, karena alasan itu rasional dan terbukti secara ilmiah.

Alasan kedua adalah syar’i-syy, yaitu syar’i yang diturunkan Allah ta’ala, bahwa Allah justru menjadikan ta’ala sebagai alasan untuk mendatangkan kemaslahatan dan mencegah kemudharatan. Seperti dzikir pagi dan petang. Kami membaca dzikir untuk mencari perlindungan dari Allah subhanahu wa ta’ala siang dan malam. Kita juga bisa mengucapkan doa ketika akan keluar rumah atau doa perjalanan ketika ingin bepergian, kita melakukannya karena Allah melindungi kita dan Allah melindungi kita dari berbagai kecelakaan. Ada satu hal yang Allah subhanahu wa ta’ala larang untuk dilakukan dengan alasan yang tidak diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai alasan syar’i atau alasan yang indah. Alasannya adalah penggunaan jimat.

Jimat bukanlah penyebab kecantikan karena tidak masuk akal dan tidak terbukti secara ilmiah. Bagaimana dengan kain hitam atau kuning yang digantung di pintu rumah sebagai pencegahan kebakaran? Saat terbakar, kainnya juga ikut terbakar. Apa hubungannya notasi angka terpotong di toko dengan aliran barang? Tulisan-tulisan ini tidak ada hubungannya dengan kelancaran arus pemeliharaan.

Semua ini tidak masuk akal dan tidak terbukti secara ilmiah, sama seperti meminta bantuan jin atau setan. Intinya jimat tidak kausal karena tidak masuk akal dan tidak terbukti secara ilmiah. Dan azimat juga tidak berasal dari syar’ karena azimat sudah ada pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak memerintahkan pemakaian jimat dan tidak ada Sahabat yang memakai jimat di rumah atau saat perang.

Beberapa larangan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam terkait jimat

  1. Dari ‘Imron bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di lengan seorang pria gelang yang dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu beliau berkata, “Untuk apa engkau memakainya?” Pria tadi menjawab, “(Ini dipasang untuk mencegah dari) wahinah (penyakit yang ada di lengan atas)”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Gelang tadi malah membuatmu semakin lemah. Buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad 4: 445 dan Ibnu Majah no. 3531);
  2. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari ‘ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan” (HR. Ahmad 4: 154);
  3. Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad 4: 156).

Dari hadits tersebut para ulama menyimpulkan bahwa hukum penggunaan jimat hanya bervariasi antara dua kemungkinan, bisa jadi dia termasuk ke dalam syirik terbesar dan setidak-tidaknya syirik kecil. Seseorang yang menggunakan jimat bisa terjerumus ke dalam lelucon besar yang mengatakan bahwa jimat itu membantunya, bahwa jimat itu memudahkan penghidupannya, Tuhan tidak lagi membantunya dan Tuhan tidak lagi memfasilitasi penghidupannya. Jimat menjadi Syirik kecil ketika dia mengatakan bahwa jimat adalah alasannya. Dia masih percaya bahwa Tuhan membuat hidupnya mudah dan Tuhan membantunya, tetapi dia mengatakan bahwa pertolongan itu dari Tuhan karena jimat yang dibawanya.

Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim (43: 179), atas otoritas Hudzaifah, dimana beliau pernah melihat seseorang menggunakan benang untuk mencegah demam kemudian memotongnya. Kemudian Hudzaifah membacakan firman Allah Ta’ala: “Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan di mana Allah mempersatukan (dengan para penyembah lainnya).” (QS.Yusuf:106). Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengaruniakan Taufik dan hidayahnya agar kita selalu berada di jalan yang benar dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melindungi kita selalu dan dimanapun.